Pendidikan Indonesia dan Perubahan Diri Sendiri
9:06:00 PM
Siang hari, pulang sekolah. Gue bersyukur karena pada hari itu adalah hari terakhir gue ngejalanin UKK. Gue ngerasa kaya bebas dari sebuah kandang yang dijaga ketat dan dijadiin budak di sana. Kenapa? karena gue ngerasa bahwa gue dituntut untuk bisa melakukan segalanya.
Tak lama setelah itu, gw iseng-iseng buka line dan pada sebuah timeline, gue menemukan sebuah tanggapan mengenai UKK dan pendidikan Indonesia.
"Kalo dihitung, total materi yang harus dikuasi untuk menempuh UKK kemarin dari rata2 14 mata pelajaran adalah krng lebih 56 bab. Dan itu semua dimampatkan hanya dalam waktu rata2 seminggu.
Maka, sebenarnya kita tidak perlu mendapatkan nilai baik pada semua mata pelajaran yang diujikan. Itu bagai menunutut kelinci untuk berlari, meloncat, menggali, terbang, sekaligus berenang dengan baik.
Kurang lebih seperti itulah yang gue baca. Pas gue ngelihat ini, gue coba baca, renungin, dan akhirnya gue sadar bahwa memang ada yang salah dengan semua ini. Dengan sistem pendidikan kita
Gue sadar bahwa masih ada kekurangan dengan sistem pendidikan kita. Gue sadar bahwa masih banyak hal yang bisa dilakukan dengan sistem ini, dan gue juga yakin bahwa suatu saat menteri Indonesia bisa memperbaiki hal ini.
Gue emang bukan siapa-siapa. Cuma seorang pelajar yang ga bisa dapet predikat "murid terbaik" di sekolah. Gue juga bukan orang yang di idolakan. Tapi meskipun gue bukan orang penting dan jauh dari kata cerdas, gue masih punya keinginan untuk merubah sistem ini.
Selain itu, sistem ini juga ga cuma membuat murid stres, tapi juga mempengaruhi perilaku mereka.
Pendidikan sekarang lebih mementingkan sebuah hasil dari pada sebuah proses. Meskipun banyak orang yang bilang "gue lebih respect sama orang yang berusaha keras tapi hasilnya kurang dari pada curang tapi hasilnya bagus" tapi itu semua cuma bualan semata. Ga ada buktinya. Hal ini lah yang menyebabkan kenapa banyak orang mau ngelakuin apa aja hanya demi sebuah nilai.
Apa-apa nilai, hasil akhir, seolah proses hanyalah sebuah batu pijakan yang tidak penting. Semua terukur dengan sebuah angka semu. Yang bahkan tak bisa membedakan mampu dan tipu.
Bukannya gue sok suci. Gue jujur, gue juga pernah nyontek, dan itu pun bisa membawa gue kepada peringkat tinggi di kelas. Tapi lama-kelamaan gue semakin penasaran, apa rasanya usaha keras yang sia-sia. Bahkan tak di pedulikan
Berdasar pada hal itulah gue mau ngerubah diri gue menjadi orang yang jujur. Yang mau berusaha keras mencapai tujuan, dengan segala planning, dan action yang real. Bukan yang fake.
Pelan-pelan gue mencoba untuk tidak mencontek saat ujian. Agak susah sih, karena emang udah terbiasa. Gue bersyukur dengan UKK gue, bukan dengan nilai, namun dengan proses. Gue dapet remedial di beberapa pelajaran, ga cuma 1. Rasanya sakit karena gue tidak terbiasa dapet nilai jelek. Tapi dari pengalaman inilah gue tahu bagaimana rasanya usaha keras yang tak dianggap. Namun dilain sisi gue bersyukur karena gue berhasil menahan keinginan buat nyontek meskipun masih ada sedikit yang nyontek. Kira-kira gue ngerjain sendiri 13 dari 14 mata pelajaran.
Gue ga akan menyerah sampe sini aja, gue emang udah jauh dari standar buat dapet SBMPTN, tapi yang penting gue ga jauh dari standar kebenaran.
Jadi yang ingin gue sampaikan adalah:
Hasil yang jelek bukanlah akhir yang jelek. Namun proses yang jelek akan membawa lo ke sebuah akhir yang jelek.
See ya,
Aurial Adipradana
Siswa biasa.




1 komentar
Suka banget ini suka. Semangat terus yaa!
ReplyDelete