Dua Orang yang Berubah
7:00:00 PM
Bacanya sambil dengerin ini ya
Pada hakikatnya, semua orang pasti berubah. Mungkin beberapa dari mereka terlihat tetap sama, tetap ceria seperti dulu, ataupun tetap terdiam di antara keramaian seperti biasanya. Tapi, di dunia ini semua orang pasti berubah, tidak hanya fisik tapi juga sifat maupun perasaan. Meskipun banyak orang yang tau bahwa orang akan berubah, tapi masih banyak diantara mereka yang terlarut dalam kenyamanan sehingga tidak ingin orang yang ia kenal berubah, termasuk gue.
Dulu gue sempet punya seseorang yang gue anggap penting dalam hidup gue. Dia selalu ada disaat gue bahagia, dia selalu ada disaat gue sedih, bahkan dia juga selalu ada disaat gue gatau harus merasa bahagia atau sedih, seakan bahagia dan sedih berada pada 1 waktu yang sama. Tapi saat itu gue tetap percaya, selama ada dia, gue akan baik-baik saja. Pada akhirnya, secara tidak disadari gue sudah terlalu bergantung kepada dia. Dia adalah kaki untuk gue berlari
Dia adalah tempat gue bercerita tentang semua hal yang gue alami sehari-hari. Dia juga adalah seseorang yang selalu gue ceritakan kepada keluarga, teman, bahkan kepada orang yang ga gue kenal, karena gue percaya, dia adalah seseorang yang bisa gue banggakan. Ibarat penumpang busway, kita berangkat di stasiun yang sama dan berharap akan tiba distasiun yang sama dan turun secara bersama-sama.
Banyak hal yang udah kita lakuin bareng. Mulai dari nonton bareng, iseng-iseng ke luar kota bareng, sampai nyobain jajanan yang belum pernah kita cobain sebelumnya. Sebuah kenangan yang cukup indah dan menarik untuk diingat kembali. Tapi, hal-hal yang sudah kita anggap sebagai rutinitas tersebut, terpaksa kita tunda untuk jangka waktu yang cukup lama, cukup lama untuk pada akhirnya membuat gue dan dia berubah.
Kuliah di luar kota dan cukup jauh dari rumah merupakan sebuah tantangan tersendiri. Gue dituntut untuk mengenal lingkungan yang baru, bertemu dengan orang yang baru, dan juga berusaha menyesuaikan antara keduanya. Jauh dari orang tua dan dia bukanlah suatu masalah buat gue, karna gue yakin jika kita saling percaya maka segalanya akan baik-baik saja, setidaknya itu yang gue pikirkan dulu di awal.
Lagi-lagi secara tidak sadar, perubahan lingkungan juga merubah pola hidup gue. Gue lebih sering di kampus untuk ngerjain tugas, gue juga jadi lebih sering main keluar, bahkan gue rela nongkrong di kedai kopi sampe jam 1 pagi. Disitu gue sadar, sikap gue ke dia juga berubah seiring dengan berjalannya waktu. Gue jadi lebih lama bales chat dari dia, sikap gue jadi lebih cuek ke dia, dan bahkan gue sampe bisa membuat dia berkata kepada gue.. "Kamu ga punya waktu ya buat aku?"
Butuh waktu lama untuk menyadarinya, dan juga butuh waktu lama untuk membuat dia yakin lagi bahwa kita akan baik-baik saja. Tapi seperti yang gue bilang di awal, semua orang pasti berubah, meskipun sejujurnya gue gamau dia berubah. Dia bukan lagi dia yang dulu gue kenal, dia yang sekarang menjadi seseorang yang asing buat gue. Dia ga care lagi sama gue, dia jadi cuek sama gue, dan bahkan mungkin dia sudah menganggap bahwa ada gue dan ga ada gue, ga ada bedanya. Dan pada akhirnya, dengan semua hal telah terjadi, dia memutuskan untuk turun lebih awal, turun dari busway yang kita naiki bersama, di halte yang berbeda.
Kehilangan seseorang yang berarti buat gue tidak pernah menjadi hal yang begitu sederhana. Melupakan seseorang itu memang mudah, yang sulit adalah terbiasa dengan ketidak hadiran dia di dalam hidup kita, lagi. Disaat gue pulang ke tempat gue tinggal, gue teringat bahwa dulu dia pernah berkata ingin menjemput gue di Bandara, tapi sesampainya di Bandara yang gue lihat hanyalah supir taxi yang berteriak menawarkan jasanya. Gue juga pergi ke beberapa tempat yang dulu pernah kita kunjungi, betapa lucunya disaat gue pergi kesana sendiri, seakan keberadaan dia juga turut ada disana. Untuk kedua kalinya, tempat tersebut menjadi terasa asing buat gue. Terkadang semesta memang suka bercanda.
Disaat dia turun dari busway lebih awal dan meninggalkan gue sendiri di dalam, gue sempat terdiam dan merenung untuk waktu yang cukup lama, tanpa sadar busway yang gue naiki telah melewati beberapa halte dan semakin menjauh dari tempat dia turun. Untuk beberapa halte kemudian, gue pun sadar. Gue akhirnya memutuskan untuk turun di halte terdekat dan berlari menuju halte dia turun, karena gue sadar menunggu busway lagi terasa cukup lama untuk sesuatu yang buru-buru. Namun, sejenak sebelum gue ingin mulai berlari, gue kembali tersadar..
"Apakah gue bisa berlari tanpa kaki?.."
Semua orang pasti berubah, bahkan dikejadian gue, dua orang telah berubah. Pada akhirnya setiap orang harus memutuskan untuk lanjut menjalani hidup seperti apa. Dari pada naik busway yang bisa turun sendiri-sendiri, mungkin lebih baik untuk naik pesawat. Mungkin lebih mahal, dan mungkin juga lebih terasa guncangannya, tapi percayalah, dengan segala hal yang dikorbankan, turun bersama-sama di tempat yang sama itu lebih menyenangkan.
Tapi.. untuk sesuatu yang berubah-ubah, kenapa rasa gue masih sama ya?
Tapi.. untuk sesuatu yang berubah-ubah, kenapa rasa gue masih sama ya?


1 komentar
kelasss bosq
ReplyDelete