Love Life School. SMA

9:34:00 PM

Sebelum baca ini, tolong puter lagu sedih tentang persahabatan. Tolong.

Oke stop.  Apasih (-__-)



Kata mereka, masa SMA adalah masa-masa paling indah dalam hidup. Masa-masa dimana kita mulai lebih mengenal tentang pergaulan, arti teman, bahkan arti persahabatan. Masa abu-abu dimana kita harus memilih. Apakah kita mau menjadi putih, atau hitam nya kita nanti.

Dulu gue pernah nyoba ngitung berapa banyak, lebih tepatnya berapa lama kita merasa senang, standar, dan merasa sedih pada saat berada di SMA. Dan pada akhirnya gue tau bahwa kita lebih banyak banyak merasakan rasa standar di masa SMA. Dan juga bahkan gue sadar bahwa kita lebih banyak mengalami rasa sedih dari pada masa senang. Entah itu sedih karena ketemu guru killer, dihukum gara-gara telat / diskros karna berantem sama temen.

Gue sempat percaya bahwa masa SMA bukanlah masa-masa terindah dalam hidup. Bayangan gue tentang SMA mulai berubah. Yang awalnya gue kira masa SMA itu menyenangkan, gue mulai meyakinkan diri bahwa masa SMA itu standar, ga ada bedanya sama masa-masa sekolah kita di SD/SMP sebelumnya.

Semua hal yang menurut gue menyenangkan tentang SMA mulai berubah. 180 derajat. Di atas permukaan laut.

Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan.Setiap ada mopdb pasti ada wisuda.

Sampai akhirnya gue diundang untuk menjadi panitia dokumentasi dalam acara perpisahan kelas 12 di sekolah gue. Gue pun dengan senang hati menerima ajakan tersebut.

Gue dateng pagi-pagi ke gedung perpisahan tersebut. Makan beberapa snack yang udah disediain panitia untuk sarapan. Disaat gue sedang sarapan, gue juga merhatiin orang-orang yang keluar-masuk gedung. Panitia yang bawa-bawa perlengkapan dan konsumsi ke dalam gedung, beberapa orang yang sedang berlatih untuk tampil, dan panitia lain yang sedang stay di depan untuk menyambut tamu undangan. Tak lain dan tak bukan adalah murid kelas 12 yang udah lulus.

Gue melihat para senior saling bertemu satu sama lain, bersalaman, dan saling menanyakan kabar. Tak sedikit dari mereka yang berpelukan dan meneteskan air mata, seolah ini adalah masa-masa sedih. Gue pun sedikit bingung karena gue menganggap bahwa masa SMA sendiri adalah masa-masa yang standar dan kenapa kita harus sedih ketika kita meninggalkan SMA.

Acara pun dimulai, dan gue juga mulai bertugas. Acara dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah dan dilanjutkan dengan acara lain seperti penampilan dari beberapa siswa, penghargaan bagi peraih nilai tertinggi, dan juga pengalungan medali tanda kelulusan.

Ada 1 hal yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang disana. Seakan-akan mereka ingin sekali melihat hal tersebut. Yup, Catatan Akhir Sekolah

Catatan tersebut berisikan kisah-kisah yang telah mereka alami selama 3 tahun berada di dalam sekolah. Mulai dari ngerasain sedih pahitnya kopi, hingga senang manisnya gula. Entah kenapa mereka ga sabar banget nunggu CAS diputer di layar putih panggung. Seakan-akan mereka ingin melihat kembali dan merasakan kembali apa yang telah mereka lewati di masa SMA. Seolah mereka akan segera melupakannya dan ingin mengingatnya kembali.

Akhirnya video tersebut diputar, gue pun ikut nonton karena gue berada dalam gedung tersebut. Gue pun ikut terbawa suasana video yang terkesan sedih tersebut. Gue melihat bagaimana bahagianya mereka saat berada dalam SMA, seolah-olah semua luka yang tercipta begitu lama, tertutup begitu saja dengan rasa senang yang singkat dan sesaat.

Sampai akhirnya video tersebut selesai diputar. Gue diam merenung, merenungkan sesuatu yang gue rasa mengganjal. Sesuatu yang ga boleh gue lupain.

Gue pun tau apa yang mengganggu pikiran gue. "Kenapa gue sangat terpaku pada berapa lama kita merasakan senang dan sedih?". Gue melupakan sesuatu, gue lupa bahwa bukan banyaknya waktu yang kita hitung untuk menentukan senang atau sedihnya kita pada masa itu, tapi seberapa besar dan kecilnya rasa senang dan sedih tersebut. 

Memang, di masa SMA kita akan lebih banyak mengalami rasa sedih dibanding rasa senang. Tapi percayalah, meskipun rasa senang itu singkat, namun sangat berarti. 

Meskipun rasa sedih itu begitu lama, namun setiap luka pasti ada obatnya.

Setuju?



Ingatlah, ketika kalian sedang bersedih, jangan lupakan bahwa disetiap kesedihan pasti ada sebuah kebahagiaan. Selalulah merasa diuntungkan dalam setiap kepedihan. Karna itu salah satu cara bersyukur. Jangalah kita merasa kalo hal yang membuat kita sedih tersebut membebani kita. Inget, anggap saja kalian sedang diuntungkan dalam keadaan tersebut.

Dan ingatlah, di dunia ini ada hal yang tidak bisa kita ukur besar kecilnya. Contohnya adalah rasa senang dan sedih.

Credit: Aurial Adi




You Might Also Like

1 komentar

Total Pageviews

Twitter Absurd